Tentang Perasaan: kamu

Kamu tahu kan perasaan itu?

Perasaan yang muncul ketika kamu memiliki seseorang yang dulu pernah kamu cintai di masa lampau.
Lama tak pernah bertemu karena takdir yang berbeda.
Lalu tiba-tiba kamu mengenalinya di dekatmu sedang menjaga anaknya di tempat permainan anak-anak.
Dan kamu ingin menyapanya tapi tidak jadi karena kamu merasa dia adalah masa lalumu?

Kamu tersenyum kecut untuk sesaat.
Mengetahui bahwa orang yang dulu kamu kagumi sekarang bahagia bersama anaknya.
Bersama kehidupannya yang sekarang.
Kamu pun akan tersenyum menyadari bahwa waktu berlalu dengan begitu cepatnya.
Dan hei, ternyata kamu dapat berjumpa lagi dengannya, yang telah sekian tahun pergi dari kehidupanmu.

Kamu tahu kan perasaan itu?

Saat di mana kamu hanya bisa duduk memandangnya dari kejauhan.
Melihat kecantikannya yang selalu memancar, tertawa berseri bersinar.

Dan kamu tahu kan, perasaanku saat ini?

Ah, kukira kamu tidak tahu tentang perasaanku.
Barangkali aku sudah hilang dalam ratusan revolusi bulan terhadap bumi.
Aku bukanlah siapamu kecuali kenangan di masa lalu.
Mungkin kamu hanya akan mengetahuiku saat reuni, itupun kalau kamu datang.
Atau, kamu hanya akan mengetahuiku saat-saat kita tak sengaja berjumpa, tapi itu hanya kulit belaka dan satu dalam berjuta asa.
Sore hari ini pun kamu tak tahu bahwa aku melihatmu dari sini. Dari bangku sebelah yang tak kamu perhatikan keberadaannya.
Atau, mungkin kamu hanya akan mengetahuiku melalui tulisan ini: sebuah tulisan yang mungkin saja akan kamu baca bertahun-tahun sejak aku menuliskannya untukmu.

Walau bagaimanapun, aku berharap kamu tahu akan perasaanku ini.
Bahwa takdir telah memisahkan kita.
Angin telah berubah arah.
Pohon telah tumbuh dengan tingginya.
Kita tak tahu sampai kapan kita ada.
Kita tak pernah tahu hingga tetiba saat itu tiba.

Sebuah tempat hiburan, 25 november 2018.

Iklan

APALAH AKU DI HATIMU

Apalah aku di hatimu

Aku adalah debu yang basah

Menempel ketika hujan, menghilang ketika terik

Apalah aku di hatimu

Aku adalah bunga yang kuncup

Setengah mekar lalu layu, tak sempat kau lihat semerbakku

Apalah aku di hatimu

Aku adalah hari yang cerah

Mengerti hujan lalu kau berpaling, tidur dalam sakit

Apalah aku di hatimu

Aku adalah komputer berkapasitas besar

Di saat kau hanya membutuhkan ketik

Lalu, apalah aku di hatimu

Seterang siang, segelap malam kau mencari senja

Mungkin, aku dan kau tak pernah satu dalam kita

 

Cengkareng, 24 Oktober 2018

Waktuku

Waktuku terus berdering

Melesatkan peluru-peluru tajam ke telingaku

Mengingatkanku akan tenggat

Hei, jangan lupa kerjakan ini itu

Bertubi-tubi bagaikan aliran sungai yang mengalir deras

Tiga tahun sudah berlalu

Sejak saat aku memutuskan berhijrah ke kota Laksamana Zheng He

Memang waktu adalah dimensi linear yang tak berbalik

Kuingat saat itu aku terduduk

Di depan teras penuh bunga lantai dua gedung geologi ITB

Memikirkan masa depanku kelak

Sembari melihat gedung baru yang tengah dibangun kala itu

Waktu memang terasa pelan namun menghanyutkan

Sejenak aku merenung saat ini

Namun bukan meratap

Sejenak yang cukup lama namun singkat

Akhirnya aku berdiri

Aku melihat jam tanganku:

“Ah, sudah saatnya!”

 

Sumurboto, 22 April 2018

Tentang Tantangan dalam Hidup

Di dalam hidup ini, di setiap tahap apapun kita akan menemukan apa yang disebut dengan tantangan. Tantangan inilah yang kemudian akan membedakan jalan hidup kita kelak: Orang-orang yang mampu menjawab tantangan dan melewatinya kemungkinan besar akan menjadi orang yang sukses. Sebaliknya bagi orang yang menolak untuk menjawab tantangan ini, atau gagal dalam melewatinya, berpeluang lebih besar untuk tetap dalam kondisinya saat ini. Bahkan bisa jadi keadaannya malah memburuk.

Orang-orang yang sukses adalah orang-orang yang mampu fokus terhadap apa yang dilakukannya saat ini, berusaha dengan segenap daya dan kekuatannya untuk mendapatkan pengetahuan praktikal tentang apa yang perlu dikuasainya di dunia profesi yang ditekuninya saat ini. Orang-orang yang tak kenal lelah dalam belajar, serta mau menerima kritik dan masukan selama proses yang disebut oleh Greene sebagai Ideal Apprenticeship. Hingga pada akhirnya ia merasa bahwa tidak ada lagi yang bisa dipelajari di suatu bidang tertentu.

Aku menuliskan tulisan ini setelah membaca sedikit tentang apa yang disampaikan oleh Robert Greene dalam bukunya: Mastery. Sebuah buku yang sangat berbobot kukira. Meskipun aku belum menamatkannya. Poinku saat ini adalah, bahwa aku merasa bahwa tulisan beliau tersebut sangat recommended untuk dibaca oleh orang-orang. Siapapun itu yang ingin sukses di dalam hidupnya.

Tentang blog dan Tulisan

Sudah lama aku tidak menulis lagi di blog pribadiku ini. Sebenarnya bukan berarti aku tidak pernah menulis lagi. Kenyataannya aku masih sering menulis, tapi tidak di platform wordpress ini. Aku menulis di platform yang lain di mana aku merasa nyaman untuk menuliskannya di platform tersebut. Well, itu juga tidak berarti bahwa aku tidak merasa nyaman untuk menulis di platform ini. Hanya saja ada hal yang terjadi sehingga aku lama tidak menulis di platform ini lagi.

Mari kita bicarakan hal yang lain.  Berbicara tentang sejarah, sebetulnya blog wordpress ini dulunya aku buat sebagai bagian dari tugas oprec ARC ITB di tahun 2010. Sebelumnya, aku menggunakan platform blogspot untuk membagikan tulisan-tulisanku. Hanya saja, meskipun pada awalnya blog wordpress ini adalah tugas, aku mulai merasa nyaman untuk menulis di sini, berbagi di sini. Akhirnya kuputuskan untuk tetap mempertahankan blog ini hingga hari ini.

Meskipun hingga hari ini blogku ini masih bertahan, aku melihat bahwa jumlah tulisanku belum bisa stabil jumlahnya maupun waktu pengeposannya. Sebenarnya aku memiliki cita-cita untuk membuat blog ini menjadi besar. Dengan tulisan yang diposting secara regular dan memiliki sejumlah pembaca setia. Meskipun mungkin tidak seberapa jumlahnya, aku tidak peduli dengan hal tersebut. Aku hanya ingin membagikan apa yang aku pikirkan. Aku alami. Aku hadapi. Atau mungkin, sekedar berkeluh kesah dengan apa yang terjadi. Banyak yang aku harapkan untuk blog ini. Sejak beberapa tahun yang lalu.

Akan tetapi, sebelum aku mewujudkan cita-citaku untuk membuat blog ini menjadi besar, ada satu masalah yang perlu aku hadapi terlebih dahulu: ketakutanku sendiri untuk memposting. Maksudku di sini adalah, bahwa meskipun aku masih sering menulis, apa yang aku tuliskan itu rata-rata adalah tulisan yang aku simpan sendiri. Kalaupun aku tuliskan di platform lain, aku mengatur privasinya menjadi pribadi. Atau mungkin terkadang teman. Aku masih belum berani memposting banyak tulisan dengan privasi publik. Ya, masalah ini yang menghambatku untuk memposting banyak tulisan di blog ini. Di mulai dari kekhawatiran akan menyinggung perasaan orang lain, masalah citra, masalah judge dari orang lain, dan lain sebagainya. Tapi aku akhirnya sadar, jika aku seperti ini terus, blogku tidak akan berkembang. Aku perlu menyadari, bahwa orang itu memang alamiahnya berkembang dari tidak baik menjadi baik, dari baik menjadi lebih baik, dari lebih baik menjadi jauh lebih baik, hingga di satu ketika menjadi yang terbaik. Jadi ketika kita melihat orang lain sangat baik dibandingkan kita, bisa jadi kita hanya tidak pernah melihat proses perkembangan orang tersebut dari tidak baik menjadi baik dan lebih baiknya. Semua itu butuh proses.

Untuk itu, aku berusaha untuk membuka diri lagi. Berusaha untuk melatih diriku untuk menjadi lebih baik dan lebih baik lagi ke depannya. Aku ingin sekali dapat menulis dan tulisanku dapat menjadi inspirasi bagi orang-orang yang membacanya. Aku ingat akan pesan dari guruku, bahwa sebaik-baik manusia adalah manusia yang paling bermanfaat bagi yang lainnya. Dan aku di sini ingin menjadikan tulisan sebagai media bagiku untuk memberikan manfaat kepada orang lain. Mungkin masih membutuhkan waktu yang lama untuk mencapai apa yang aku inginkan tersebut. Tapi aku percaya. Percaya bahwa aku adalah orang yang dapat berkembang. Berkembang untuk menjadi lebih baik lagi.

 

 

Gedung Pertamina Sukowati, 9 Agustus 2017.

“Would you tell me, please, which way I ought to go from here?”
“That depends a good deal on where you want to get to.”
“I don’t much care where –”
“Then it doesn’t matter which way you go.”
~ Lewis Carroll, Alice in Wonderland

ARC dan Kemampuan Googling

Salah satu kemampuan dari masa kuliah yang aku rasakan manfaatnya sampai sekarang adalah: kemampuan memecahkan masalah dengan “googling”. Kemampuan googling ini aku dapatkan pada saat dulu aku masih aktif di Unit Kemahasiswaan “Amateur Radio Club (ARC).” Meskipun namanya ‘Amateur Radio’, tapi percayalah, unit ini lebih banyak bergerak di bidang komputer dan jaringan. Meskipun ada divisi radio juga. Di unit ini, aku banyak belajar mengenai komputer, terutama sistem operasi FreeBSD yang jadi andalan untuk menjalankan berbagai server.
 
Di ARC ini, kemampuan seseorang itu dinilai dari salah satunya seberapa banyak dia mengoprek. Mengoprek adalah suatu kegiatan pembelajaran dengan cara mencoba menginstal, menjalankan, dan memecahkan masalah yang muncul secara mandiri. Aku jadi ingat dulu seniorku bilang ketika aku bertanya sesuatu seputar oprekan: “Sana googling dulu!” atau “Tanya mbah google sana!”, atau bahkan “udah nyari di google belum?”. Pada awalnya aku merasa tersinggung. Karena sebagai junior di unit tersebut tidak mendapat petunjuk yang cukup untuk mengoprek. Lama kemudian aku mulai terbiasa dengan suasana di ARC. Begitu ada masalah dengan oprekan, maka sebelum bertanya kepada senior, otakku sudah berpikir: “coba digoogling dulu masalahnya. Barangkali sudah pernah ada orang yang mengalami masalah yang sama. Barangkali ada tutorial untuk memecahkan masalah tersebut. Atau barangkali ada alternatif dalam memecahkan masalahnya.”
 
Lama aku tidak aktif lagi di ARC. Semenjak lulus S2 dan pindah ke Semarang, aku semakin jarang mengontak teman2 yang ada di Sekre, pun dengan di grup. Kesibukan di kampus menjadi alasan yang membuatku seperti itu. Beberapa waktu yang lalu aku mengunjungi Sekre ARC pun orang-orang yang ada di dalamnya sudah banyak berubah. Semakin sedikit orang yang aku kenal di sekre tersebut.
 
Yah, memang sekre tersebut sudah kepunyaan generasi baru. Generasi lama seperti saya sudah tidak berhak lagi ‘cawe-cawe’ di sekre tersebut. Paling sekali-sekali aku mampir melihat dari depan dan bernostalgia dengan sekre yang hampir sekitar 6 tahun menemani masa-masa kuliahku di ITB. Pun dengan kemampuan yang aku dapatkan selama di ARC. Meskipun saat ini aku berkutat di bidang yang tak ada hubungannya dengan komputer dan Jaringan, kemampuan googling yang aku dapatkan saat mengoprek dulu masih aku manfaatkan sampai hari ini. :’)